Pengamat: Apakah Kapal China Yang Masuk Selat Sunda Ada Hubungannya Dengan Seaglider?

Ilustrasi kapalChina/Net

Masuknya kapal China ke teritorial perairan Republik Indonesia, yaitu di Selat Sunda pada 10-13 Januari lalu, masih menyisakan pertanyaan.

Salah satunya disampaikan Pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies (Isess), Khairul Fahmi, yang menanyakan maksud kapal survei China itu masuk ke perairan Indonesia.

Sebab, dia meragukan kapal China yang bernama Xiang Yang Hong 03 tersebut mengalami kerusakan di sistem identifikasi otomatis (Automatic Identification System/AIS) yang dimilikinya.

"Sebab ini (AIS yang terpasang di kapal China) berkali-kali mati. Dan kita juga harus melihat, ada banyak kasus seperti ini dijadikan modus untuk kapal-kapal yang sedang berupaya melakukan pelanggaran hukum di laut," ujar Khairul Fahmi saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (22/1).

Menurut Khairul Fahmi, persoalan ini bukan hanya tentang pemberian sanksi. Tapi seharusnya bisa dilakukan upaya penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui maksud dari kapal tersebut berlayar melewati perairan dalam negeri.

Karena dia tidak bisa memungkiri adanya kemungkinan kapal China yang masuk Indonesia ada kaitannya dengan penemuan drone bawah laut atau Seaglider di beberapa wilayah beberapa waktu lalu.

Kahirul Fahmi menyebutkan, terbaru Seaglider ditemukan di Kepuluan Anamabas pada Selasa (19/1). Sebelumnya, Seaglider juga ditemukan nelayan di Selayar, Sulawesi Selatan pada 26 Desember 2020.

Bahkan jauh sebelum itu, Seaglider juga ditemukan pada Maret 2019 di Kepulauan Riau dan Januari 2020 di Perairan Jawa Timur.

"Seaglider itu kan perangkat survei, perangkat riset. Sementara kapal yang melintas ini kapal survei. Nah, ini kan mungkin saja ada benang merahnya," ungkap Khairu Fahmi.

Oleh karena itu, Khairul Fahmi menganggap persoalan ini tidak bisa diabaikan begitu saja pemerintah. Sehingga harus ditindak lanjuti secara serius.

"Tapi entah karena kurang awerness soal kewaspadaan dan kepekaan terhadap situasi, mungkin tidak dikembangkan. Sehingga akhirnya dilepas dan berlayar kembali," katanya.

"Tapi kalau ndak diperiksa bagaimana kita tau itu berkaitan atau tidak," demikian Khairul Fahmi menambahkan.

Berdasarkan pengematan Badan Keamanan Laut (Bakamla), kapal China yang masuk ke wilayah Perairan Selat Sunda mematikan AIS sebanyak tiga kali dalam kurun waktu yag berebeda-beda.

Di antaranya, untuk periode pertama Ais dimatikan selama delapan jam. Kemudian periode yang kedua selama 34 jam dan periode ketiga selama 12 jam.
EDITOR: AHMAD SATRYO

Kolom Komentar


Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021

Artikel Lainnya

KKB-OPM Papua Dinilai Layak Dikategorikan Teroris
Keamanan

KKB-OPM Papua Dinilai Layak ..

07 Maret 2021 23:56
Kapen Kogabwilhan III Pastikan Korban Kontak Tembak Di Sugapa Adalah KSB Papua
Keamanan

Kapen Kogabwilhan III Pastik..

07 Maret 2021 22:52
Jenazah Kopda Anumerta Dedy Irawan Dimakamkan Di TMP Taman Bahagia Riau
Keamanan

Jenazah Kopda Anumerta Dedy ..

03 Maret 2021 14:38
Marsekal Hadi Terima Kunjungan Letjen Suryo Prabowo
Keamanan

Marsekal Hadi Terima Kunjung..

02 Maret 2021 21:09
Cetak Sniper Terbaik, Yontaifib TNI AL Gelar Latihan Menembak
Keamanan

Cetak Sniper Terbaik, Yontai..

01 Maret 2021 23:18
Satu KSB Meninggal Usai Kontak Senjata Dengan TNI Di Intan Jaya
Keamanan

Satu KSB Meninggal Usai Kont..

28 Februari 2021 12:59
TNI AL Berangkatkan KRI Sultan Iskandar Muda Bawa Kontingen Garuda XXVIII-M Laksanakan Misi Perdamaian Dunia Ke Lebanon
Keamanan

TNI AL Berangkatkan KRI Sult..

27 Februari 2021 23:31
TNI AL Lanal Dumai Tangkap Penumpang Speed Tambang Bawa Narkoba Jenis Sabu
Keamanan

TNI AL Lanal Dumai Tangkap P..

27 Februari 2021 18:18