Persoalan Rasisme Di Amerika Serikat Tidak Bisa Disamakan Dengan Separatisme Di Papua

Mural George Floyd tersebar di kota-kota Amerika Serikat sebagai protes aksi rasial oleh oknum polisi setempat/Net

Peneliti Fellow Layola University Chicago, Ratri Istiana mengajak seluruh masyarakat Indonesia memahami konteks aksi protes ketidakadilan rasial yang terjadi di Amerika Serikat beberapa minggu terakhir ini.

Menurutnya Ratri, gerakan-gerakan turun ke jalan yang terjadi di Amerika Serikat hanya ingin menyampaikan pesan secara universal.

“Ini penting agar jangan mencampuradukan isu rasialisme di Amerika Serikat dengan separatisme di Papua,” kata Ratri dalam Webinar bertajuk “Papua Bukan Minessota,” Senin (15/6).

Menurut Ratri, dari hasil melihat langsung gerakan-gerakan protes yang terjadi di Amerika Serikat, hanya bertujuan untuk menyampaikan bahwa demokrasi adalah nilai yang harus dijunjung tinggi.

Kemudian, sambung Ratri, aksi-aksi protes yang dilakukan di Amerika Serikat hanyalah untuk menyuarakan ketidakadilan rasial yang mengedepankan semangat persatuan, bukan justru memecah belah warga.

Dan, pesan lain yang ingin disampaikan dalam aksi-aksi di Amerika itu salah satunya, untuk menghimbau pemerintah, rakyat dan organisasi masyarakat agar bersatu padu.

“Dengan demikian, permasalahan separatisme di Papua tidak bisa disamakan lewat isu rasialisme di Amerika Serikat,” tekan Ratri.

Ratri kemudian menegaskan bahwa isu rasialisme di Amerika Serikat, tidak bisa diimpor ke Indonesia dengan memanfaatkan Papua.

Kata Ratri, karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan budaya. Setidaknya terdapat, 1.331 kelompok etnis dan 700 bahasa daerah ditambah enam agama yang hidup secara berdampingan.

“Artinya kita menyepakati NKRI itu dibangun oleh kesepakatan bersama dari berbagai etnis. Mereka bersepakat untuk bersatu dalam wadah NKRI. Kita bukan holding together seperti Amerika Serikat yang terdiri dari masyatakat yang independen dan bersepakat dalam bentuk federasi,” urai Ratri.

Kemudian, bingkai NKRI itu dorong untuk membangun semangat menanamkan nasionalisme sipil bukan nasionalisme etnik nasionalime yang berdasarkan identitas membedakan satu dan lainya atau menekankan adanya mayoritas dan minoritas.

Kolom Komentar


Video

New Normal New Ideas

Minggu, 05 Juli 2020
Video

Bergerak Serentak, Seruan Mahasiswa Batalkan OmnibusLaw

Jumat, 10 Juli 2020
Video

Jasad ABK WNI Ditemukan di Frezeer Kapal China

Jumat, 10 Juli 2020

Artikel Lainnya

Anak Buah Prabowo Pastikan Belum Ada Rencana Pembelian 8 Pesawat Osprey Dari AS
Keamanan

Anak Buah Prabowo Pastikan B..

08 Juli 2020 17:03
Beri Pembekalan Capaja TNI-Polri, Jokowi Bicara Kejahatan Menggunakan Teknologi
Keamanan

Beri Pembekalan Capaja TNI-P..

08 Juli 2020 11:24
Tiga Bulan Tak Diaktifkan, Whatsapp Hapus Nomor Syahganda Nainggolan
Keamanan

Tiga Bulan Tak Diaktifkan, W..

03 Juli 2020 23:31
Update Corona 25 Juni: Kasus Positif Tembus 50 Ribu, Pasien Sembuh Bertambah 791 Orang
Keamanan

Update Corona 25 Juni: Kasus..

25 Juni 2020 16:11
Sersan Mayor Rama Wahyudi, Mekanik Andal Yang Gugur Dalam Misi Perdamaian
Keamanan

Sersan Mayor Rama Wahyudi, M..

24 Juni 2020 22:54
Rumah Kepala Dinas Perhubungan Banda Aceh Dilempar Bom Molotov
Keamanan

Rumah Kepala Dinas Perhubung..

23 Juni 2020 15:06
Boy Rafli Akan Bangun Pusat Pengendalian Krisis, Langsung Di Bawah Kendali Presiden
Keamanan

Boy Rafli Akan Bangun Pusat ..

23 Juni 2020 13:54
Begini Detail Aksi Tentara Indonesia Usir Tank Israel Yang Terobos Pembatas Blue Line Di Lebanon
Keamanan

Begini Detail Aksi Tentara I..

20 Juni 2020 12:05