Komnas Perempuan Dorong Program Jihad Untuk Kedamaian

Kamis, 16 Mei 2019, 17:10 WIB | Laporan: Widya Victoria

Riri Khariroh/Dok

Jihad melawan kebencian adalah jalan menuju perdamaian dan persatuan bangsa.

Untuk itu masyarakat harus dapat menjadikan jihad di bulan Ramadan ini sebagai perang melawan kebencian, hoax, dan propaganda yang dapat memecah belah persatuan bangsa.

Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Riri Khariroh mengatakan, momen bulan Ramadan ini sangat tepat utamanya bagi masyarakat untuk dapat menahan diri dari mengeluarkan ujaran-ujaran kebencian.

“Karena bulan Ramadan adalah bulan yang harus dipenuhi oleh nasehat-nasehat ataupun oleh perilaku dan juga ucapan maupun tindakan-tindakan yang seharusnya bisa menyebarkan kedamaian, menimbulkan ketenangan di mayarakat dan juga menghargai kelompok-kelompok yang berbeda," ujar Riri Khariroh di Jakarta, Kamis (16/5).

Riri menilai akan sangat ironis kalau di bulan Ramadan ini masih ada orang yang masih saling mencaci-maki antarkelompok yang berbeda. 

Untuk itulah masyarakat harus bisa memahami bahwa bulan Ramadan ini adalah momen yang sangat tepat untuk berefleksi, utamanya bagaimana di ruang publik, ujaran kebencian itu harus diminimalisir sebaik mungkin.

"Kesucian bulan Ramadan ini tidak boleh kemudian dikotori oleh adanya ujaran kebencian ataupun hasutan hasutan untuk membenci kelompok lain. Saya kira itu penting sekali bagi umat Islam untuk mempraktekkan akhlakul karimah di bulan Ramadan ini," ujar Riri.

Sebagai pengurus di Komnas Perempuan, Riri juga mengajak kepada kaum perempuan untuk bisa menjadi agen penebar kedamaian usai digelarnya agenda Pemilihan Presiden (Pilpres) lalu. Ia tidak memungkiri dalam Pilpres 2019 keterlibatan kaum perempuan sungguh sangat luar biasa.

"Mengapa? Karena memang secara sosial kaum perempuan ini lebih dekat kepada masyarakat, lebih dekat terhadap juga keluarga dan sebagainya. Karena kaum perempuan itu punya potensi untuk menyebarkan maupun mendekati banyak orang agar kemudian bisa memihak terhadap kelompoknya,” ujar alumni Center for International Studies, Universitas Ohio, Amerika ini.

Lebih lanjut Riri mengatakan, potensi perempuan untuk menjadi agen penggerak perdamaian ini harus bisa dikembangkan secara baik. Apalagi di bulan Ramadan yang harusnya dapat diisi dengan amalan-amalan sholeh seperti melakukan tarawih, tadarus, bersedekah, dan membantu sesama tetangga.

“Nah untuk hal-hal semacam itu sebenanrya peran perempuan itu jauh lebih efektif jika dibandingkan kemudian kita larut didalam ujaran kebencian dan juga aksi-aksi turun ke jalan atau aksi-aksi menyebar hoax di media sosial  yang sebenarnya buat perempuan itu tidak ada manfaatnya," kata pria yang juga Pengurus Pimpinan Pusat Fatayat NU ini.

Sebagai kaum perempuan, boleh berbeda pilihan tetapi persaudaraan, pertemanan antar ibu-ibu di komplek perumahan atau di kampung-kampung harus tetap terjaga dengan baik.

“Saya juga sampaikan di lingkungan saya bahwa  kebutuhan kita (perempuan) itu apa sih kalau bukan bisa hidup nyaman, anak-anak kita bisa sekolah dengan baik, dengan suami kita juga rukun. Kan kebutuhan kita itu. Ngapain kita saling mencaci-maki satu sama lain," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut wanita kelahiran Rembang, 5 Desember ini juga meminta kepada kaum prempuan untuk bisa menjadi garda dalam menangkal radikalisme di lingkungan keluarga. Kareana peran perempuan di dalam keluarga mau tidak mau sangat sentral.

“Perempuan adalah ibu dari anak tersebut tentunya memiliki sensitivitas untuk melakukan deteksi dini terhadap misalnya anak-anak yang terpapar. Makanya beberapa pelaku terorisme itu kemudian menjadi disengage dari terorisme itu karena faktor ibunya atau faktor istrinya," katanya.

Di keluarga itulah sebenarnya nilai-nilai toleransi lalu relasi antara laki-laki dan perempuan itu dibangun. Oleh karenanya dirinya juga berharap kepada lembaga pemerintah seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan juga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (KemnPPPA) untuk dapat membuat program seperti jihad untuk menciptakan kedamaian di dalam keluarga ataupun di dalam masyarakat.

“Bagaimana masyarakatnya bisa damai kalau keluarganya tidak damai. Jadi keluarga ini menjadi elemen paling kecil di masyarakat untuk bisa menciptakan kedamaian di dalam masyarakat yang lebih besar," jelasnya. 

Kolom Komentar


loading