ICPR Ajak Kaum Perempuan Jadi Agen Penebar Perdamaian

Kamis, 21 Maret 2019, 08:58 WIB | Laporan: Widya Victoria

Siti Musdah Mulia/Humas BNPT

Pelibatan kaum perempuan untuk menjadi pelaku aksi bom bunuh diri masih saja terjadi.

Terakhir pada pekan lalu di Sibolga, Sumatera Utara, seorang wanita bersama anaknya yang masih berusia  balita melakukan upaya bom bunuh diri saat rumahnya digerebek aparat Densus 88/Anti Teror Polri.

Tidak hanya persoalan kekerasan, selama ini kaum perempuan ternyata juga lebih aktif dan rentan menjadi penebar dan korban berita bohong (hoax).

Melihat beberapa fonomena tersebut, Ketua Umum Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Siti Musdah Mulia mengajak kaum kepada perempuan agar menjadi agen penebar perdamaian baik untuk diri sendiri maupun lingkungan keluarga, masyarakat dan bangsa.

"Kaum perempuan harus bisa menjadi aktor yang aktif untuk menyebarkan upaya upaya damai. Upaya-upaya damai itu bisa dilakukan dalam banyak cara. Pertama, jangan pernah membiarkan kekerasan itu terjadi untuk alasan apapun. Kedua, jangan pernah membiarkan sikap, perilaku intoleran sekecil apapun. Ketiga, jangan pernah membiarkan orang yang melanggar hukum untuk dibiarkan saja,” ujar Musdah.
 
Musdah yang juga Guru Besar Pemikiran Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengajak kepada kaum perempuan untuk selalu siaga dan mau berbicara dalam segala hal.

"Kita sebagai penjaga generasi manusia dalam kehidupan umat manusia, mari kita menjadi ibu-ibu yang lebih banyak dalam menyebarkan sifat-sifat feminim di dalam masyarakat. Dan ini bisa dilakukan di berbagai lingkungan yang mulai dari lingkungan yang  kecil sampai kepada lingkungan yang besar," kata wanita kelahiran Bone, 3 Maret 1958 ini.

Menurut dia, kaum wanita yang ditakdirkan feminim memiliki sifat-sifat seperti kasih sayang, melindungi dan bahkan mau mengalah untuk terbangunnya perdamaian. Sehingga tidak harus menggunakan kekerasan untuk mencapai sesuatu.

"Jadi upaya-upaya penggunaan cara-cara feminism yang dimiliki wanita atau cara-cara yang mengandung unsur-unsur lemah lembut dengan mengedepankan keselamatan bersama, itu menjadi kualitas feminim yang dibutuhkan di dalam menjaga masyarakat dari berbagai bahaya radikalisme,” ujarnya.

Lebih lanjut Musdah mengatakan, keterlibatan kaum wanita dalam aksi terorisme karena sudah menjadi kebijakan global dari kelompok-kelompok teroris itu sendiri. Dari pengamatannya kelompok radikal Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) sendiri sejak tiga tahun yang lalu itu sudah mulai melihat bahwa penggunaan kaum perempuan jauh lebih efektif.

Mereka lihat hal itu berhasil dan itu dikembangkan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

"Kaum perempuan itu kalau dicekokin dengan urusan agama itu tentunya paling cepat. Lalu disebutkan hadistnya ‘Kalau laki-laki dapat surga dan ketemu bidadari di surga. Sementara kalau perempuan itu bisa membawa 70 keluarganya ke surga’. Pandangan-pandangan keagamaan yang sesat seperti itu tentunya memberikan kemudahan bagi perempuan. Apalagi kalau sudah ada istilah ‘Sami'na Wa Atho'na’ (Kami Mendengar dan Kami Taat), itu perempuan jauh lebih loyalitas ketimbang laki-laki,” ujarnya menjelaskan.

Selain itu, alasan kaum perempuan lebih ‘murah’. Karena kelompok teroris itu memakai modus operandi dinikahi, dipacari dan sebagainya.

"Kalau sudah seperti itu tentunya 'habis’ dan kasihan kaum perempuan itu. Apalagi sejak kecil kaum perempuan lebih banyak dididik untuk mengembangkan emosinya, bukan mengembangkan intelektualitasnya" kata perempuan pertama yang pernah dikukuhkan LIPI sebagai Profesor Riset bidang Lektur Keagamaan ini.

Untuk itu dirinya meminta kepada lembaga-lembaga pemerintah seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ataupun Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk selalu aktif melibatkan kaum perempuan dalam berbagai hal.

“Kaum perempuan juga harus dilibatkan dari awal, dia juga harus menjadi aktor penyebar perdamaian. Kalau kaum perempuan itu bisa direkrut untuk jadi aktor teroris maka seharusnya perempuan lebih bisa untuk direkrut menjadi aktor dalam membawa pesan damai," ujarnya. 

ICRP sendiri, lanjut Musdah, selama ini sudah banyak melakukan kegiatan yang melibatkan kaum perempuan. Karena salah satu tugas ICRP itu sendiri bagaimana menjadikan agama itu sebagai sumber perdamaian.

“Karena kami selalu yakin bahwa setengah dari penduduk Indonesia adalah perempuan. Karena  kebijakan dan program kami itu selalu punya perspektif gender," katanya.
Editor:

Kolom Komentar


Video

Kemesraan Jokowi-Prabowo Belum Berlalu

Senin, 15 Juli 2019
Video

Futsal 3 X Seminggu Tingkatkan Kecerdasan Otak

Selasa, 16 Juli 2019
Video

Garuda Perlu Tinjau Ulang Aturan Mengambil Foto dan Video

Rabu, 17 Juli 2019